Tuesday, November 1, 2011

Haji, Jihad dan Pengorbanan



Khutbah Jumat Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.
الله أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ، الله أَكْبَرُ، ولله الْحَمْدُ. الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لله كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Hari ini, kaum Muslimin insya Allah akan mengawali bulan Dzulhijah 1432 H. Di mana di dalamnya terdapat 10 Hari pertama yang terkandung sekian keutamaan. Sepuluh hari yang sarat dengan kebaikan. Kebaikan padanya bernilai utama di sisi Allah. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي هذَا الْعَشْرِ، قَالُوْا: وَلَا الْجِهَادُ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ.
“Tidak ada amal pada hari-hari, yang lebih utama daripada amal-amal di sepuluh hari ini.” Mereka berkata, “Tidak pula jihad?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang berangkat menghadapi musuh dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak pulang dengan sesuatu (dari keduanya atau mati syahid).” (HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 969).
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Salah satu ibadah utama di hari-hari ini adalah ibadah haji di tanah suci yang merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Begitu identiknya haji dengan hari dan bulan ini sehingga orang-orang mengatakan hari raya haji dan bulan haji. Haji adalah ibadah tua seumur bapak para nabi, Ibrahim ‘alaihissalam. Dialah pembangun Ka’bah Baitullah dan setelah itu dia mengumumkan haji ke seluruh penjuru bumi.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلَ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il (seraya berdoa), ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (Al-Baqarah: 127).
Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Ali Imran: 96).
Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
وَأِذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Al-Hajj: 27).
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Salah satu hikmah Allah dalam mensyariatkan ibadah adalah Dia menjadikannya beragam, di mana hal ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah yang merupakan rukun Islam, syahadat merupakan ibadah hati karena ia merupakan keyakinan dasar yang kemudian dilafazkan dengan lisan, sementara shalat adalah gerakan jasad, ia merupakan ibadah badani, lain lagi puasa yang merupakan sikap menahan diri, lalu zakat yang merupakan ibadah hartawi dan yang kelima adalah haji yang menggabungkan semua sisi dari empat ibadah sebelumnya. Dari sinilah, maka haji termasuk ibadah yang terakhir diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu pada tahun 9 Hijriyah. Hal ini karena haji memerlukan segala perkara yang diperlukan oleh empat rukun sebelumnya. Ia memerlukan landasan iman yang tertanam dalam syahadat, ia memerlukan tenaga jasmani dan harta yang ada pada shalat dan zakat, dan ia memerlukan sikap menahan diri yang dikandung oleh puasa.
Maka dari itu, ibadah haji sarat dengan nilai-nilai luhur, padat dengan jihad dan pengorbanan, penuh dengan pendidikan dan penempaan diri. Kita menengok kepada syarat wajib haji, ia adalah istitha’ah.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imran: 97).
Kesanggupan atau kemampuan di mana dasarnya menurut para ulama adalah kesanggupan finansial, kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan, untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah lagi manakala harta yang telah diraih itu, yang merupakan ketergantungan dan kecintaan jiwa, mesti dirogoh dari kantong untuk membiayai diri, demi rukun Islam yang agung ini, belum lagi kesiapan jasmani di mana modal utamanya adalah sehat. Dibutuhkan jihad melawan kecintaan berlebih kepada harta agar jiwa rela dan lapang mengorbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Dibutuhkan pula jihad melawan kecintaan berlebih kepada sikap santai dan rehat, sebab haji memang mengharuskan kelelahan, baik kelelahan perjalanan dan kelelahan pelaksanaan.
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Kita menengok lebih dalam kepada aturan dan tatanan manasik haji. Kita bisa mendapatkan bahwa ia merupakan pendidikan jihad agar jiwa menghormati dan menghargai batasan-batasan Allah, menahan diri dengan tidak melanggarnya. Seperti kita ketahui, haji ditunaikan dalam keadaan ihram, dan dalam ihram ini terdapat pantangan-pantangan yang harus dijaga, seperti pakaian berjahit, topi atau kopyah, mencukur rambut, memotong kuku, membunuh binatang buruan, memakai minyak wangi, bersetubuh, menikah dan menikahkan. Semua ini adalah perkara-perkara yang harus dijauhi semasa ihram, padahal sebagian darinya adalah perkara yang mungkin dalam pandangan sebagian orang sepele, seperti menutup kepala dengan penutup atau memotong kuku. Sementara sebagian lagi merupakan perkara yang disukai oleh jiwa seperti minyak wangi dan bersetubuh. Akan tetapi semua itu adalah bata-san-batasan Allah yang tidak patut disepelekan atau dipandang sebelah mata.
Kita kembali menengok, aturan-aturan di atas mengakibatkan sangsi dan hukuman bagi pelanggarnya, mulai dari bersedekah dan berpuasa, sampai dengan mengalirkan darah dengan menyembelih hewan ternak, sebuah pendidikan kedisiplinan dan tanggung jawab serta kesiapan memikul resiko kelalaian dan kekhilafan, dan itu pun dalam bentuk perbuatan yang kebaikannya kembali kepada diri sendiri atau kepada sesama. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَآئِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ . لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahNya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Hajj: 36-37).
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Mari kita lihat dan cermati tempat di mana haji ini dilaksa-nakan, sebuah tempat yang berpusat di daerah Haram yang memiliki hukum-hukum khusus yang berbeda dengan yang lain, salah satunya jika di daerah selainnya keinginan berbuat keburukan belum diperhitungkan, maka berbeda dengan di daerah Haram, ia diperhitungkan bahkan diancam siksa yang pedih. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ الله وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَآءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (Al-Hajj: 25).
Oleh karena itu, ayat Alquran yang lain mengajarkan orang yang berhaji agar menghindari perkara-perkara yang dapat mengurangi atau menghapus keutamaan ibadah haji. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh bersetubuh, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (Al-Baqarah: 197).
Dan haji yang demikian melebur dosa-dosa pelakunya sehingga dia pulang dalam keadaan sama dengan pada saat dilahirkan oleh ibunya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لله، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
“Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu dia tidak melakukan bersetubuh dan tidak melakukan perbuatan fasik, niscaya dia pulang seperti hari di mana dia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq ‘alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 732; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 641).
Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu pada saat dia masuk Islam,
أَمَا عَلِمْتَ يَاعَمْرُو! أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَاكَانَ قَبْلَهُ.
“Apakah kamu belum mengetahui wahai Amr, bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya, hijrah menghapus apa yang sebelumnya, dan haji menghapus apa yang sebelumnya.” (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 64).
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Kita kembali menengok rangkaian manasik haji: thawaf, sa’i, wukuf, melempar jumrah dan lain-lain. Semua ini merupakan ibadah-ibadah yang menuntut aktivitas fisik yang melelahkan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan ber-talbiyah, ditambah dengan kepadatan manusia yang memiliki beragam bahasa dan tradisi, berkumpul di satu tempat, di waktu yang sama, ditambah lagi cuaca yang kadang-kadang berbeda jauh dengan cuaca di negeri sendiri. Semua itu tidak jarang menimbulkan problem tersendiri yang menuntut usaha keras dan kesabaran dalam menyikapinya, maka tidak berlebihan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendudukkan haji dalam deretan amalan-amalan utama setelah iman dan jihad di jalan Allah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu
أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: إِيْمَانٌ بلله وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ الله. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ.
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang amal apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ditanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Beliau ditanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 25).
Tantangan dalam ibadah haji yang dihadapi dan pengorbanan yang diberikan bertujuan melatih dan mendidik, ia demi kebaikan dan kemaslahatan yang tidak mungkin diperinci satu demi satu, akan tetapi yang telah kita ketahui sudah cukup menyadarkan kita akan hikmah mulia dari ibadah haji. Firman Allah Subhanahu Wata’ala,
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَارَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ
“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya, dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Al-Hajj: 28).
Semoga saudara-saudara kita yang berangkat haji dikaruniai Haji Mabrur yang memberi pengaruh baik dalam kehidupan dan perilaku mereka, dan bagi saudara-saudara kita yang belum berangkat semoga Allah memudahkan jalannya agar mereka juga bisa menyaksikan keagungan-Nya melalui ibadah yang agung ini.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِي
اللهم صَلِّ على مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ ِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا، إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَعَلَيْكَ الْبَلَاغُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بلله
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. قُوْمُوْا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ الله.
KhotbahJumat.com

Ikutilah Sunnah dan Jauhilah Bid’ah


     

KHUTBAH PERTAMA
اِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan, serta berpegang teguh di atas syariat-Nya. Karena di dalamnya ada cahaya dan petunjuk yang demikian mencukupi untuk membimbing dan mengatur seluruh sisi kehidupan kita. Mulai dari urusan rumah tangga hingga ketatanegaraan. Sehingga, selama seseorang itu mengikuti petunjuk dan aturan-Nya pasti dia akan selamat di dunia dan akhirat. Karena, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya di dalam firman-Nya,
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى
Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)
Maka, barang siapa yang tidak merasa cukup dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga menyelisihinya, pasti dia akan rugi dan celaka. Meskipun orang melihatnya hidup dengan penuh kemewahan dan serba ada. Namun, sesungguhnya dia tidak merasakan kelapangan dan ketenangan di dalam jiwanya. Karena, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam bagi orang-orang yang menyelisihi petunjuk-Nya di dalam firman-Nya,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)
Hadirin rahimakumullah
Seorang muslim yang hakiki tidak akan ridha untuk meninggalkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ditawarkan kepadanya dunia seisinya. Dia akan tetap berpegang teguh di atas syariat-Nya, meskipun cobaan dan ujian menimpa dirinya. Karena dia mengetahui, bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah di dunia dan apa yang dimilikinya berupa kenikmatan dunia, baik berupa harta, kedudukan, dan yang semisalnya, pasti akan sirna. Sehingga, yang senantiasa diinginkan oleh dirinya adalah meraih kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diampuni seluruh dosanya, serta mendapatkan hidayah dan curahan rahmat-Nya. Oleh karena itu, dia berusaha untuk mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan menaatinya dan tidak menyelisihinya. Karena itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar dirinya dicintai dan dirahmati, serta diberi hidayah oleh Yang Maha Kuasa. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ {31} قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir.’” (Ali ‘Imran: 31-32)
Maka di dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa menaati Rasul-Nya adalah konsekuensi dan bukti dari cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara menyelisihinya adalah tanda kekufuran dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberitakan di dalam Alquran, bahwa barang siapa menaati Rasul-Nya akan memperoleh hidayah-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
Dan jika kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapat hidayah/ petunjuk.” (An-Nur: 54)
Begitupula Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan, bahwa taat kepada Rasul adalah sebab yang akan mengantarkan kita untuk mendapatkan rahmat-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَأَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat.” (Ali ‘Imran: 132)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, seorang muslim akan mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan meninggalkan seluruh ajaran yang menyimpang dari ajarannya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia tidak akan terburu-buru dalam meyakini dan mengamalkan suatu ajaran dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang berupa ucapan maupun amalan anggota badan. Akan tetapi, dia akan menimbang terlebih dahulu seluruh ucapan dan amalan ibadahnya dengan amalan dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila sesuai maka diterima, namun apabila bertentangan maka dia akan menolak, dari manapun datangnya. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,
لَقَدْ أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ مَنْ تَبَيَّنَ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ
Para ulama telah sepakat, bahwasanya barang siapa yang telah jelas baginya jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan siapapun.”
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya agar jangan sampai terjatuh pada perbuatan bid’ah, yaitu mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Hati-hatilah kalian dari terjatuh kepada amalan-amalan ibadah baru yang diada-adakan, karena setiap amalan tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (H.R. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)
Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa perbuatan mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya adalah sejelek-jelek amalan. Sebagaimana tersebut dalam haditsnya,
وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا
Dan sejelek-jelek amalan adalah amalan ibadah yang diada-adakan (yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin).” (H.R. Muslim)

Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,

Para ulama telah menjelaskan di dalam kitab-kitab mereka tentang maksud dari amalan bid’ah. Di antaranya disebutkan bahwa bid’ah adalah aturan yang diada-adakan dalam beragama yang menandingi syariat dan dimaksudkan dengan mengikuti aturan tersebut untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bid’ah itu bermacam-macam jenisnya. Ada yang berupa amalan ibadah baru yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin. Seperti mengadakan acara perayaaan dan peringatan hari kelahiran atau hari kematian seseorang. Ataupun dengan mengubah tata cara ibadah yang telah disyariatkan. Seperti berzikir secara berjamaah dengan dipimpin oleh seorang imam setelah selesai dari shalat berjamaah.
Hadirin rahimakumullah,
Seluruh jenis bid’ah dengan berbagai macamnya adalah sesat, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan Al-Albani rahimahullah)
Begitu pula dikatakan oleh Abdullah ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah adalah sesat meskipun orang-orang menganggapnya baik.”

Maka, tidak benar kalau dikatakan ada bid’ah yang baik atau hasanah. Akan tetapi, yang ada adalah sunnah yang hasanah, bukan bid’ah hasanah. Yaitu melakukan amal ibadah yang disyariatkan dan kemudian dicontoh, serta diikuti oleh yang lainnya. Adapun mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan amal ibadah yang dibuat sendiri atau dibuat oleh gurunya, hal tersebut adalah amalan bid’ah dan tidak ada baiknya sama sekali. Karena seluruh amalan bid’ah adalah keluar dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun kadar kesesatannya dan kejelekannya berbeda-beda.
Akhirnya, marilah kita senantiasa mengikuti wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang teguh di atas jalannya. Begitupula wasiat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhati-hati terhadap kerusakan yang sangat berbahaya, yaitu bid’ah serta orang-orang yang mengajaknya. Karena hal itu akan menjauhkan kita dari agama yang mulia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْـجَحِيْمِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ، وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita berusaha untuk selalu menjaga diri-diri kita dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bertakwa kepada-Nya. Yaitu dengan senantiasa mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menyelisihinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan rasul-Nya dengan ancaman yang keras. Sebagaimana hal ini tersebut di dalam firman-Nya (yang artinya),
Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nur: 50)
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa bid’ah adalah bentuk penyelisihan paling besar dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah perbuatan syirik. Hal ini karena perbuatan bid’ah akan memecah-belah kaum muslimin, serta menyeret pelakunya pada kerusakan agama dan hatinya. Perbuatan bid’ah akan menjadikan hati pelakunya menjadi benci kepada As-Sunnah. Karena, hati tidak akan menerima Sunnah Rasul jika sudah ditempati oleh bid’ah. Oleh karena itu, kita dapati orang yang melakukan atau bergelut dengan bid’ah serta menghidupkannya adalah orang yang jauh dari Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setan akan menghiasi amalan bid’ah sehingga akan menjadi sangat mudah bagi orang yang tertipu untuk mengamalkannya, meskipun harus mengeluarkan banyak biaya dan menyita sebagian besar waktunya. Dan bid’ah akan menyeret pelakunya menjadi orang yang sombong untuk menerima kebenaran. Hal itu karena setiap pelaku bid’ah akan membanggakan dirinya dan menganggap cara serta amalannya adalah yang paling baik.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa termasuk dari amalan bid’ah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah mengkhususkan pertengahan bulan Sya’ban atau yang dikenal dengan istilah Nishfu Sya’ban dengan shalat malam secara berjamaah.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Majmu’, “Shalat yang dikenal dengan istilah shalat Ar-Ragha`ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan ‘Isya pada malam Jumat pertama di bulan Rajab dan shalat pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, keduanya adalah amalan bid’ah dan mungkar. Janganlah tertipu karena disebutkannya dua jenis shalat ini dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya` ‘Ulumuddin. Dan jangan pula tertipu dengan hadits-hadits yang tersebut di dalam dua kitab tadi. Karena sesungguhnya semua itu batil.”
Berkata pula Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, “Hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang dha’if. Tidak boleh dijadikan sebagai pegangan. Sementara hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan shalat pada malam Nishfu Sya’ban semuanya adalah hadits palsu, sebagaimana telah diingatkan oleh banyak ulama.”
Maka, tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan, serta mengistimewakan pertengahan bulan ini daripada hari-hari lainnya di bulan tersebut. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin tidak pernah melakukannya. Begitu pula tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mendukung dan membantu pelaksanaannya. Karena hal itu sama saja dengan menghancurkan agama saudaranya. Bukan berarti tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk shalat malam pada hari tersebut. Akan tetapi mengistimewakan hari dan malam tersebut dari hari-hari lainnya di bulan Sya’ban untuk shalat atau ibadah lainnya bukanlah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akhirnya, marilah kita senantiasa berhati-hati dari jalan-jalan yang menyimpang dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang terbaik di umat ini baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang mengikuti mereka adalah satu-satunya jalan yang benar.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْـمُسْلِمَاتِ، وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْـمُرْسَلِينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَـمِينَ

KhotbahJumat.com

Anjuran untuk Berilmu dan Mengamalkannya


        

KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ الَّذي خَلَقَ السَـمَوَاتِ وَالأَرْضَ، وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ. وَالْحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَ الْعِلْمَ عَلَى الْجَهْلِ، فَقَالَ: قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُوْنَ وَتاَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَلِيْمُ بِمَنْ يُصْلِحُ لِلْعِلْمِ وَالدِّيْنِ . ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْقُائِلُ: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ . صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَسَلَّمَ تَسْلِمًا
Ma’syiral muslimin! Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta mempelajari hukum-hukum syariat-Nya, dengan cara menuntut ilmu yang bermafaat. Sebab, ilmu itu merupakan cahaya sekaligus petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan dan kesesatan. Pelajarilah apa yang telah Allah turunkan berupa wahyu kepada Rasul-Nya. Sesungguhnya, ulama adalah pewaris para nabi. Adapun para nabi dulu tidak mewariskan uang dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka, siapa yang mengambil ilmu tersebut, berarti ia telah mengabil bagian kekayaan yang besar dari warisan mereka. Pelajarilah ilmu, karena ia adalah kemulaiaan di dunia dan akhirat, serta akan memberikan pahala yang terus mengalir sampai hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah [58]: 11)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ خَارِيـَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بـِهِ مِنْ بَعْدِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
Jika seorang hamba menginggal dunia, maka pahala amalnya terputus kecuali dari tiga hal, yakni sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan oleh orang-orang sepeninggalannya, atau anak shalih yang mendoakannya.”
Mari kita perhatikan, betapa kita masih merasakan pengaruh-pengeruh para ulama Rabbani hingga hari ini, meski berbulan-bulan dan bertahun-tahun telah berlalu. Pengaruh mereka terpuji, jalan mereka diikuti, nama mereka terus disebut, usaha mereka patut disyukuri. Jika nama mereka disebut di majelis-majelis, maka orang-orang pun memohon rahmat dan mendoakan mereka. Jika disebut tentang amal shaleh dan adab-adab luhur, maka mereka merupakan teladan manussia dalam melaksakannya.
Ma’asyiral muslimin! Pelajarilah ilmu dan amalkanlah, sebab mempelajari ilmu merupakan jihad fi sabilillah, dan dengan mengamalkan ilmu akan mendatangkan cahaya dan bashirah dari Allah.
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَالَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا
Apakah orang yang sudah mati, lantas Kami menghidupkannya dan Kami berikan kepadanya cahaya terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (Al-An’am [6]: 122)
Ma’asyiral muslimin! Tak lama lagi kita akan menghadapi tahun palajaran baru. Pada tahun pelajaran baru itu siswa-siswa akan menerima ilmu-ilmu yang diajarkan kepada mereka, sedangkan para guru akan menghadapi siswa-siswa yang hendak menimba ilmu, adab, dan akhlak dari mereka. Demi Allah, apakah yang telah mereka persiapkan untuk menghadapi hal ini?
Hendaklah para siswa mempersiapkan diri menghadapi tahun pelajaran ini dengan kesungguhan dan semangat mempelajari ilmu semaksimal mungkin, melalui sarana-sarana dan cara- cara yang memungkinkan. Hendaklah para siswa berupaya bersungguh-sungguh untuk menancapkan ilmu-ilmu itu di hati dan bersungguh-sungguh mempelajarinya sejak awal tahun pelajaran, karena hal itu akan memantapkan ilmu yang mereka terima dan memudahkan mereka meraihnya. Sebab, jika seorang siswa bersungguh-sungguh sejak awal tahun, berarti ia menyerap ilmu sedikit demi sedikit, sehingga belajarnya menjadi mudah. Namun, apabila ia bersantai-santai dia awal tahun, maka sesudah itu ia pasti akan mengalami kesulitan, dan ilmu-ilmu tersebut akan semakin berumpuk, sehingga bayangan ilmu di benaknya hanya sepintas lalu, tertancap kuat di hati dan mengendap di otak.
Selain itu, bila seorang siswa telah menguasai ilmu tentang suatu persoalan, ia wajib menerapkan dan melaksanakannya pada dirinya, agar ilmu yang diperolehnya itu bermanfaat bagi dirinya. Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dipraktikan seseorang secara nyata, sedangkan amal adalah buah dari ilmu. Orang bodoh sungguh lebih baik daripada orang berilmu yang tidak dapat mendapat manfaat dari ilmunya dan tidak melaksanakannya. Ilmu adalah senjata, mungkin senjata itu bermanfaat bagimu untuk menghadapi musuh justru mencelakai dirimu.
Saya katakan kepada para siswa! Jika kamu semua telah mengetahui satu persoalan agama, maka laksakanlah. Jika tidak, apa gunanya ilmu yang telah kamu mengerti itu? Jika ada seorang yang telah mempelajari ilmu kedokteran, tetapi ia tidak pernah mengobati dirinya sendiri dan orang lain, maka menurutmu apa faidah ilmunya? Begitu pula ilmu-ilmu agama, jika tidak dilaksanakan. Bahkan, ilmu agama lebih penting. Jika kamu melaksanakan ilmu tersebut, maka ia menjadi ilmu yang paling bermanfaat, tetapi jika kamu melanggarnya, maka ia akan menjadi hujjah yang mencelakakanmu.
Wahai para guru! Anda semua berkewajiban menunaikan hak-hak agung umat Anda dan hak-hak para siswa yang belajar tersebut karena Allah, dengan ikhlas, memohon pertolongan kepada-Nya, dengan tujuan memberikan mafaatbagi anak-anak dan para siswa yang mempelajari ilmu dari kalian. Ikhlaskan niat dalam mengajar, pergunakan metode pengajaran yang paling mudah dan paling cepat memberikan pemahaman. Sikapilah setiap kelas dengan sikap yang sesuai, karena mengajari para ahli tentu tidak sama dengan mengajari para pemula.
Hendaklah! Anda memberikan contoh akhkak mulia di hadapan siswa. Jauilah segala akhlak tercela dan nista. Sesungguhnya murid itu akan mengikuti perilaku dan akhlak gurunya, sebagaimana ia menerima ilmu darinya.
Berikan pengarahan kepada anak-anak Anda, para siswa, setiap ada kesempatan untuk menyelesaikan pengarahan itu. Sesungguhnya, guru sejati adalah guru yang memadukan antara pengajaran dan pendidikan yang baik, sedangkan Allah mencintai para pelaku kebaikan.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيـْطَانِ الرَّخِيْمِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: الر كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ * اللهِ الَّذِي لَهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ وَوَيْلٌ لِّلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


  KhotbahJumat.com

Istiqomah Dalam Ketaatan

    

KHUTBAH JUMAT PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di manapun kita berada. Baik ketika kita sedang bersama orang banyak, maupun ketika sendirian. Dan marilah kita senantiasa takut akan terkena azab-Nya, kapan dan di mana pun kita berada. Karena, kewajiban menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya bukan hanya pada waktu dan saat-saat tertentu saja. Bahkan, beribadah kepada-Nya adalah kewajiban yang harus dilakukan hingga ajal mendatangi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)
Hadirin rahimakumullah,
Belum lama berlalu, kaum muslimin berada di bulan yang penuh barakah. Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang harinya dan shalat tarawih di malam harinya. Bulan yang kaum muslimin mengisinya dengan berbagai amal ketaatan. Kini, bulan itu telah berlalu. Dan akan menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang di bulan tersebut. Baik yang berupa amalan ketaatan, maupun perbuatan maksiat. Maka, sekarang tidak ada lagi yang tersisa dari bulan tersebut, kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhir nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَاعَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاللهُ رَءُوفُُ بِالْعِبَادِ
Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati (pada catatan amalan) segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 30)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ibarat seorang pedagang yang baru selesai dari perniagaannya, tentu dia akan menghitung berapa keuntungan atau kerugiannya. Begitu pula yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman dengan hari akhir ketika keluar dari bulan Ramadhan. Bulan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang berpuasa dan shalat tarawih karena iman dan mengharapkan balasan dari-Nya. Dan pada bulan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala bebaskan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa neraka, sehingga benar-benar bebas darinya. Yaitu bagi mereka yang memanfaatkan bulan tersebut untuk bertobat kepada-Nya dengan tobat yang sebenar-benarnya.
Saudara-saudaraku seiman yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Oleh karena itu, orang yang mau berpikir tentu akan melihat pada dirinya. Apa yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan? Sudahkah dia memanfaatkannya untuk bertobat dengan sebenar-benarnya? Ataukah kemaksiatan yang dilakukan sebelum Ramadhan masih berlanjut meskipun bertemu dengan bulan yang penuh ampunan tersebut? Jika demikian halnya, dia terancam dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib)
Namun demikian, bukan berarti sudah tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki diri. Karena kesempatan bertobat tidaklah hanya di bulan Ramadhan. Bahkan selama ajal belum sampai ke tenggorokan, kesempatan masih terbuka lebar. Meskipun, bukan berarti pula seseorang boleh menunda-nundanya. Bahkan, semestinya dia segera melakukannya. Karena, kematian bisa datang dengan tiba-tiba dalam waktu yang tidak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang mengetahui kapan datangnya kematian, maka harus dipahami pula bahwa tobat adalah pertolongan dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, tidak bisa seseorang memastikan bahwa dirinya pasti akan bertobat sebelum ajal mendatanginya. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, pada akhir hayatnya tidak bisa bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, yang mengingatkannya adalah orang terbaik dari kalangan manusia, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan taufiq dan pertolongan-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu memberikannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang segera bertobat dari seluruh dosanya. Sehingga dia akan mendapat ampunan dan menjadi orang yang tidak lagi memiliki dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلاَئِكَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا {17} وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ وَلاَالَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلاَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا {18}
Sesungguhnya Allah hanyalah akan menerima tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan, karena ketidakhati-hatiannya dan kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang Allah terima tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan, sehingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi mereka itu telah Kami siapkan siksa yang pedih.” (An-Nisa`: 17-18)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun orang yang telah memanfaatkan pertemuannya dengan Ramadhan untuk bertobat dan mengisinya dengan berbagai amal shalih, maka seharusnya dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohon agar amalannya diterima serta memohon agar bisa istiqamah di atas amalan tersebut. Dan janganlah dirinya tertipu dengan banyaknya amalannya. Sehingga, dia menyangka bahwa dirinya termasuk orang-orang yang paling baik dan paling hebat. Bahkan, dia harus senantiasa memohon ampun dan beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena seseorang tidak bisa memastikan apakah amalan yang sudah dia lakukan diterima atau tidak. Seandainya diterima pun, sesungguhnya belum bisa untuk membalas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ia terima. Karena, amalan yang dia lakukan benar-benar tidak bisa lepas dari pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, sudah sepantasnya bagi dirinya untuk senantiasa tawadhu’ dan tidak merasa paling baik. Bahkan, semestinya dia memperbanyak menutup amalannya dengan beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, begitulah sifat-sifat orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang sudah beramal dengan sebaik-baiknya, namun masih merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan kekurangan dirinya dalam beramal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (tidak akan diterima). (Mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu`minun: 60)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan. Maka, doa yang senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala di bulan tersebut janganlah kemudian kita tinggalkan di bulan berikutnya. Begitu pula membaca Alquran yang senantiasa kita lakukan di bulan Ramadhan, janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut. Bahkan, ibadah puasa pun semestinya tetap kita lakukan meskipun di luar bulan tersebut. Karena, masih sangat banyak puasa-puasa sunnah yang memiliki keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menjalankannya. Begitu pula shalat malam, adalah amalan ibadah yang semestinya tidak berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan, meskipun dilakukan hanya dengan beberapa rakaat saja. Karena, menjaganya adalah salah satu sifat wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk mengerjakan shalat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 16)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Di antara tanda yang menunjukkan diterimanya amalan kita adalah berlanjutnya amalan tersebut pada waktu berikutnya. Karena, amalan yang baik akan menarik amalan baik berikutnya. Maka, marilah kita senantiasa menjaga amalan-amalan kita dan janganlah kita kembali kepada perbuatan maksiat setelah kita bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, bahwa di depan kita ada timbangan amalan yang akan menimbang amalan-amalan kita yang baik dan amalan kita yang jelek. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {102} وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (Al-Mu`minun: 102-103)
Hadirin rahimakumullah,
Orang yang mengetahui betapa besarnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan betapa butuhnya dia terhadap rahmat tersebut tentu akan terus berusaha untuk beramal shalih sampai ajal mendatanginya, sekecil apapun bentuknya. Selama dirinya mampu untuk melakukannya, maka dia tidak akan meremehkannya. Sebagaimana perbuatan maksiat, maka diapun akan meninggalkannya dan tidak menyepelekannya, sekecil apapun bentuknya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّالَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ
Dan kalian ucapkan dengan mulut-mulut kalian apa yang kalian tidak berilmu tentangnya dan kalian menganggapnya sebagai suatu yang sepele saja. Padahal, hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang besar.” (An-Nur: 15)
Akhirnya, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima amalan-amalan kita dan memberikan kekuatan kepada kita agar senantiasa mampu untuk menjalankannya. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni seluruh kesalahan kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَنَا وَعَمَلَكُمْ وَجَعَلَهَا فِي مِيْزَانِ حَسَنَاتِنَا، إِنَّهُ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ

KHUTBAH JUMAT KEDUA

الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan marilah kita senantiasa memikirkan betapa cepatnya berlalunya malam dan siang. Karena, hal ini akan mengingatkan kita akan semakin dekatnya waktu perpindahan kita dari tempat beramal di alam dunia ini menuju saat pembalasan di akhirat nanti. Sehingga, akan mendorong kita untuk segera memanfaatkan kesempatan yang ada untuk beramal shalih. Karena, kesempatan hidup di dunia kalau tidak digunakan untuk ketaatan, maka kesempatan itu akan pergi dengan segera dan akan berakhir dengan penyesalan, serta kerugian pada hari kiamat. Adapun apabila digunakan kesempatan hidup kita di dunia dengan ketaatan, niscaya akan kita rasakan hasilnya. Karena, amal shalihlah sesungguhnya kekayaan yang akan kita bawa untuk hari akhir nanti. Adapun kekayaan yang berupa harta benda di dunia tidaklah bermanfaat, kecuali kalau digunakan untuk beramal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, apalah artinya kekayaan di dunia ini kalau akhirnya berujung dengan tidak memiliki apa-apa, bahkan mendapat siksa di akhirat nanti. Sementara kalau kita gunakan kesempatan ini untuk beramal shalih, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Bahkan, berlanjut dari mulai di dunia ataupun setelah kita berpindah ke alam kubur sampai ketika saat hari kebangkitan dan berikutnya akan mendapatkan kenikmatan yang selamanya di surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang sangat membahagiakan dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Namun, akan datang waktu-waktu berikutnya yang akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan kita. Maka, bagi seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Bahkan, lebih berharga dari harta yang dimilikinya. Karena, harta apabila hilang dari dirinya, maka masih ada kesempatan untuk dicari. Adapun waktu apabila telah berlalu, maka tidak akan bisa untuk didapatkan lagi. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan hidup yang sangat sebentar ini dengan sebaik-baiknya. Janganlah amalan yang telah kita bangun pada bulan-bulan yang lalu, kemudian kita robohkan lagi pada bulan berikutnya. Bahkan, semestinya kita kokohkan dengan melanjutkan amalan tersebut pada bulan-bulan berikutnya. Dan janganlah kita mendekati setan setelah kita menjauhinya pada bulan Ramadhan yang lalu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara amal shalih yang sangat besar keutamaannya untuk dilakukan setelah bulan Ramadhan, yaitu pada bulan Syawwal, adalah puasa sunnah selama enam hari pada bulan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barang siapa yang telah berpuasa Ramadhan dan kemudian dia mengikutkannya dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka dia seperti orang yang berpuasa selama satu tahun.” (H.R. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Yaitu barang siapa yang puasa selama enam hari baik secara berurutan ataupun berselang-seling, mulai hari kedua di bulan Syawwal, maka dia akan mendapat pahala orang yang puasa selama satu tahun. Tentu saja, ini adalah keutamaan yang tidak akan dilewatkan begitu saja oleh setiap muslim. Maka, dia akan segera menunaikannya. Karena semakin cepat dilakukan, maka akan semakin baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Maka, berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)
Namun, keutamaan ini didapat bagi orang yang melakukannya setelah dia selesai menjalankan puasa Ramadhan baik dilakukan pada waktunya, maupun di luar waktunya bagi yang memiliki utang puasa. Untuk itu, semestinya orang yang memiliki utang puasa segera membayarnya setelah hari raya Idul Fithri. Kemudian, segera mengikutinya dengan puasa selama enam hari pada bulan tersebut.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk selalu mendapatkan curahan rahmat-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ في كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ … اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
( KhotbahJumat.com)

Istiqamah yang Benar


 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Kebersihan hati seseorang, ketenangan, keseimbangan dan kemantapan hatinya akan tampak tersimpan dalam keseriusannya beragama, berpegang teguhnya dengan syariat Rabb-nya dan kuatnya ia berpegang dengan syariat, sehingga ia menjauhkan diri dari penyimpangan-penyimpangan, keragu-raguan dan kecenderungan untuk melampaui batas ataupun meremehkan agama.
Seorang muslim sangat memperhatikan keseimbangan ini, agar ia bisa hidup dengan kehidupan yang baik, yaitu dipenuhi dengan istiqamah dalam beragama, mantap di atas agama ini saat musibah dan fitnah menerpa silih berganti, sehingga Allah akan membedakan antara yang baik dan yang buruk, kemudian menjadikan yang buruk sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu mengumpulkan mereka semua untuk dimasukkan ke dalam neraka. Na’udzubillah.
Pegangan seorang muslim yang benar dalam menghadapi semua peristiwa ini, yaitu firman Allah,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS al Hijr : 99).
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ

Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS Al Ahqaf: 13).

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Sufyan bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah. Beritahukan kepadaku dalam Islam, suatu ucapan yang aku tidak akan bertanya tentang ini kepada seorangpun selain engkau?’,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah’.”
Maka lihatlah –semoga Allah menjaga Anda semua- kepada wasiat pernuh arti ini, yang menerangkan identitas seorang muslim, bahwa ia harus hidup dan mati di atasnya, yaitu istiqamah yang sebenar-benarnya. Istiqamah yang benar ini, mecakup tiga rukun.
Pertama, istiqamah dengan lisan. Yaitu diambil dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’.”
Kedua, istiqamah dengan hati dan anggota badan. Yaitu diambil dari sabda Rasulullah, ‘Kemudian beristiqamahlah’.”
Ingatlah, istiqamah yang sekadar pengakuan belaka dengan lisan, pada dasarnya tidak bisa dianggap sebagai wujud istiqamah. Pengakuan seperti itu, ibarat istiqamah dengan anggota badan belaka, tetapi hatinya kosong dari istiqamah. Demikian ini termasuk tidak beristiqamah. Oleh karena itu, Allah mencela suatu kaum yang mengaku telah benar-benar beristiqamah di atas keimanan, dan sebenarnya mereka telah berusaha mencapai kedudukan tertinggi dari istiqamah tersebut. Allah berfirman,
قَالَتِ اْلأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (QS al Hujarat : 14).
Yang ketiga, ketahuilah, wahai jamaah Jumat -semoga Allah menjaga Anda semua- bahwa jenis istiqamah yang paling agung, yaitu seseorang beristiqamah di atas tauhid dalam mengenal Allah, beribadah kepada-Nya, takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, mengharapkan pahala-Nya, berdoa kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya dan tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau berpaling kepada selain-Nya.
Sahabat Abu Bakar ash Shiddiq radhiallahu ‘ahu telah menafsirkan firman Allah,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا ……

(Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka beristiqamah…… (QS Fushshilat ayat 30) bahwasanya, mereka adalah orang-orang yang tidak berpaling kepada selain Allah.

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Manakala berbagai mara bahaya datang dari berbagai arah, dan juga beragam fitnah mengelilinginya, sehingga menggoncangkan orang-orang yang ingin beristiqamah, menjerumuskan ke dalam fitnah-fitnah tersebut, semua ini, menjadikan seseorang untuk tetap beristiqamah dan menggigitnya seperti menggengam bara dengan telapak tangan. Disinilah kita bisa mengetahui, bahwa istiqamah di atas agama Allah memiliki kedudukan yang besar. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak ta’awudz, agar terhindar dari fitnah, sebagaimana tersebut di dalam al Muwaththa’, bahwa termasuk doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah, “Ya, Allah. Jika Engkau menginginkan fitnah di antara manusia, maka matikanlah aku (untuk menghadapMu) dengan tidak terjerumus ke dalam fitnah”.
Dan yang tidak diragukan lagi –wahai jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah- bahwa terfitnahnya seseorang secara terus-menerus, seringnya seseorang terkena fitnah, juga masyarakatnya,  ini termasuk aib dan merupakan kekurangan seorang muslim, yang ia tidak bisa lepas dari fitnah. Atau, barangsiapa yang tidak terkena kobaran fitnah, maka tidak sedikit yang terkena asap fitnah tersebut. Akan tetapi, pembuat syariat, yaitu Allah Yang Maha Bijaksana tidak membiarkan seorang muslim untuk terhempas oleh fitnah, tanpa memberikan petunjuk untuk menjaga diri dari fitnah, atau menutupi aib dan menghapus apa yang telah terjadi.
Pembuat syariat Yang Maha Bijaksana memberikan petunjuk untuk beristighfar. Yakni mengharuskan seorang muslim untuk taubat nashuha dan kembali beristiqamah, untuk menjadi penenang hatinya menghadapi ombak dan angin topan yang menghantam. Allah berfirma,
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah, “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Mahaesa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (Q.s. Fushshilat: 6).
Dari landasan ini, Nabi n berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, “Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya bisa menghapuskan kejelekan. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi).
Allah juga telah berfirman tentang hal ini,
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
…… Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.s. Hud: 114).
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Sesungguhnya ketika kami menganjurkan untuk beristiqamah dan tetap di atas agama, dalam hal ini, kami mengetahui betapa sulit dan susahnya jiwa. Untuk benar-benar bisa mencapainya akan terdapat kesulitan dan hambatan yang banyak. Akan tetapi, semua ini tidak menjadikan setiap muslim enggan untuk berusaha mendapatkannya. Yaitu dengan mengerahkan seluruh tenaga dan upaya untuk menerapkannya dalam kehidupan yang nyata. berusaha mendapatkan kebenaran dan mendekatkan kepada yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Istiqamahlah kalian, dan kalian tidak akan mampu. Ketahuilah, bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah shalat. Dan tidak menjaga wudhu, kecuali seorang mukmin.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah). Sedangkan di dalam riwayat Ahmad, “Lakukan kebenaran, dan dekatkan diri kalian kepada kebenaran”.
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Sesungguhnya, dari sekilas uraian ini, ada permasalahan yang wajib untuk diamati. Bahwa seruan kepada istiqamah atau mengaku beristiqamah, sedangkan pada kenyataannya seseorang tersebut berlepas dari istiqamah dalam beragama, ini berarti kekeliruan yang nyata dan bukan kesalahan ringan.
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَـابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat), maka tidakkah kamu berpikir? (Q.s. al-Baqarah: 44).
Abu Darda` radhiallahu ‘anhu berkata, “Celakalah bagi orang yang tidak berilmu dan tidak beramal sekali saja. Dan celakalah bagi orang yang berilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmunya sebanyak tujuh puluh kali.”
Hasan Basri rahimahullah berkata, “Pandanglah manusia dengan amalan mereka dan tinggalkan perkataan mereka, karena Allah tidak meninggalkan suatu perkataan, kecuali Allah akan menjadikan atas perkataan tersebut dalil dari amal yang membenarkan ucapannya atau mendustakannya. Maka apabila engkau mendengar perkataan yang bagus, maka telitilah pemilik ucapan ini. Apabila perkataannya cocok dengan perbuatannya, maka benar, dia adalah sebaik-baik orang.”
Adapun Imam Milik rahimahuallah, telah sampai kepadanya perkataan dari Qasim bin Muhammad rahimahulalh, “Aku telah mendapati manusia, dan tidaklah mereka kagum dengan perkataan, akan tetapi mereka kagum dengan perbuatan”.
Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Ketahuilah, aib segala aib dan celaan segala celaan, yaitu perbuatan seseorang mendustakan perkataanya atau perbuatanya menyelisihi perkataannya yang dhahir. Karena, orang yang mengaku beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah, wajib baginya untuk tidak menjadikan kenyataan hidupnya sebagai orang yang menipu, menyesatkan, berdusta, berbuat riya’, mencuri, bezina, berbuat zalim, menyakiti orang lain, menghancurkan kehormatan orang lain, mengingkari janji, memudarkan syariat Allah atau merusaknya.
Kerusakan-kerusakan seperti ini cukup untuk menjadi penyebab banyaknya kekacauan, lemah amanat, tersebarnya pembunuhan, perusakan, penipuan, menyia-nyiakan hak, merusak agama, jiwa, harta, kehormatan dan akal. Dan tidak akan hilang kerusakan-kerusakan ini, kecuali dengan kembali kepada Allah, berpegang teguh dengan syariat-Nya, melihat celah-celah kekurangan, hingga kemudian memperbaikinya, agar kita bisa hidup dengan penuh keridhaan, terjauh dari kerusakan dan kebinasaan.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS al Hujarat : 15).
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (QS al An’am : 153).
Semoga Allah memberikan barakah kepada kami dan kepada jamaah Jumat dengan Alquran. Dan apa yang ada di dalam Alquran, ayat-ayat dan zikir, memberikan manfaat untuk kami dan jamaah Jumat. Apa yang telah kami sampaikan, apabila ada benarnya adalah datang dari Allah. Sebaliknya, apabila ada salahnya adalah dari diri kami dan dari setan. Dan aku meminta ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun.
KHUTHBAH KEDUA
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا  مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Ketahuilah, sesungguhnya, hal yang bisa menolong seorang muslim untuk beristiqamah dan tetap di atas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan memperbanyak ketaatan dan ibadah. Dan marilah kita berdoa, semoga Allah memberikan taufik kepada kita dengan hal-hal yang Allah cintai dan Allah ridhai. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَىمُحَمَّدٍ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَ آخِرُ دَعْوَانَا الْحَمْدُِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Khotbahjumat.com

Memaknai Pengorbanan




KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam, serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam.
Jamaah Jumat yang semoga dimuliakan Allah…
Beberapa pekan lagi kita akan merayakan Idhul Adha. Banyak di antara kaum muslimin yang mampu berlomba-lomba untuk berkurban. Di sisi lain orang-orang miskin bersukacita karena akan menyantap daging yang mungkin hanya sekali dalam setahun hal itu mereka alami.
Fenomena tumbuh suburnya kesadaran dalam diri kaum muslimin untuk berkurban tentunya merupakan suatu hal yang membahagiakan kita semua. Namun akan lebih menggembirakan lagi apabila jiwa pengorbanan tersebut dimaknai dengan benar dan ditumbuhkembangkan di setiap lini kehidupan.
Sebab, “pengorbanan di masa sekarang dipraktikkan dengan amat memilukan. Setiap lima tahunan, dalam suasana hajat politik bernama pemilu, hampir niscaya kita disuguhi drama berdarah berupa pertikaian fisik antarpendukung partai. Di luar itu juga ada tradisi perang antarsuporter sepakbola, masih lestarinya tawuran antarsiswa atau antargeng dan lain-lain. Masih segar pula dalam ingatan kita, pernah ada pasukan berani mati yang dibentuk untuk membela tokoh tertentu. Juga ada cap jempol darah hanya sekadar demi unjuk kesetiaan terhadap tokoh politik. Mereka yang tersebut di atas benar-benar siap mengorbankan apa saja termasuk menyabung nyawa demi membela harga diri partai, klub sepakbola, sekolah dan figur tertentu”.
Pertanyaan sederhana yang perlu dilontarkan, benarkah itu makna pengorbanan yang dinginkan Islam? Apakah itu tidak menyimpang dari rel pengorbanan yang telah digariskan Alquran dan Sunnah. Kemudian, menempati urutan nomor ke berapakah pengorbanan untuk agama?
Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati
Tidak ada salahnya kita membuka lembaran sejarah untuk melihat bagaimana para sahabat Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam memaknai pengorbanan dan mengejawantahkan hal itu dalam kehidupan riil mereka.
Pada suatu siang di awal bulan Syawal tahun 3 Hijriyah di sekitar Gunung Uhud, manakala pasukan kaum muslimin terdesak dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terperosok ke dalam lubang perangkap yang digali musuh, kaum musyrikin berbondong-bondong menyerbu beliau shallallahu ’alaihi wa sallam. Para sahabat yang bersama beliau, yang jumlah mereka saat itu amat sedikit, sadar betul bahaya besar yang sedang mengancam nyawa Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam. Mereka pun segera menjadikan tubuh benteng hidup untuk melindungi jiwa sang kekasih shallallahu ’alaihi wa sallam dari serbuan ganas kaum musyrikin. Tujuan utama satu-satunya adalah bagaimana cara menyelamatkan kehidupan sang Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam yang saat itu amat terancam. Dan tidak ada di dalam lembaran sejarah peperangan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam manapun kondisi sebahaya saat itu.
Pasukan berkuda dan tentara kaum musyrikin dengan beringasnya dan dengan penuh nafsu berusaha merangsek maju ke depan untuk menghabisi nyawa musuh terbesar mereka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Di saat itulah panglima besar kaum muslimin Muhammad bin Abdullah shallallahu ’alaihi wa sallam menunjukkan kekuatan dan kehebatannya. Dengan penuh keberanian bagaikan singa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam menghadang serbuan buas kaum musyrikin. Beliau dibantu beberapa orang sahabatnya yang melindungi beliau bagaikan tegarnya karang yang amat keras dan kokoh di tengah benturan badai ombak lautan.
Mereka sudah tidak memperdulikan lagi keselamatan jiwa sendiri. Yang ada di benak adalah: bagaimana caranya agar tangan-tangan kotor musuh-musuh Allah tidak lagi menyentuh tubuh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Saat itu para sahabat habis-habisan menunjukkan pembelaan dan pengorbanan mereka, yang hal itu tidak pernah terjadi di dalam sejarah peperangan manapun di dunia ini.
Mereka semakin rapat membuat benteng hidup dengan tubuh, setiap ada celah di benteng itu karena gugurnya salah seorang dari mereka, yang dihujani sabetan pedang atau tikaman tombak orang kafir, saat itu juga celah tersebut segera ditutup oleh sahabat yang lain. Demikian kejadian tersebut berulang kali, dengan penuh ketegaran, mereka menjadikan tubuh sebagai pagar hidup yang melindungi sang kekasih; Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Hingga saat itu tidak ada seorangpun di antara kaum musyrikin yang bisa menyentuh jasad Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sedikitpun!.

Abu Dujanah radhiyallahu ’anhu salah satu benteng hidup tadi, menjadikan punggungnya sebagai tameng yang melindungi Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam dari sabetan pedang, hujan anak panah dan tombak. Meskipun puluhan anak panah menancap di tubuhnya, namun beliau tidak bergeming sedikitpun dan tidak menghiraukan sakitnya hujaman puluhan anak panah yang telah menancap di tubuhnya. Yang ada di hatinya saat itu adalah, bagaimana saya bisa menghindarkan kekasihku shallallahu ’alaihi wa sallam dari kejahatan musuh-musuh Allah!

Sebuah potret pengorbanan yang luar biasa telah ditorehkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Ya, mereka telah memaknai pengorbanan dengan benar dan bentuknya yang paling tinggi, yakni pengorbanan dalam membela agama Allah

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…
Mungkin ada di antara kita yang bertanya dan berujar, “Para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengorbankan diri mereka untuk melindungi nyawa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Bagaimana dengan kita yang hidup sekian belas abad sesudah wafatnya Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam, dengan apakah kita mengapresiasikan pengorbanan untuk agama?”
Allah ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ، وَاللهُ رَؤُوْفٌ بِالْعِبَادِ
Artinya: “Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. QS. Al-Baqarah: 207.
Pengorbanan yang hakiki adalah pengorbanan yang tulus untuk mencari ridha Allah. Dan itu tentunya amat beragam, salah satu bentuk terbesarnya: berkorban untuk membela akidah dan sunnah yang diwariskan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, seorang ulama besar Islam di abad ketiga hijriah, mencontohkan pada kita ketegaran pengorbanan dalam membela akidah Islam.
Dikisahkan bahwa semasa hidupnya, selama kurang lebih 34 tahun, beliau mengalami masa muncul dan tersebarnya doktrin Alquran adalah makhluk; sebuah ideologi kufur yang diusung oleh sekte Mu’tazilah dan diamini secara berturut-turut oleh tiga penguasa saat itu; al-Ma’mûn, al-Mu’tashim dan al-Wâtsiq.
Selama puluhan tahun beliau tetap tegar mempertahankan akidah yang benar yang menyatakan bahwa Alquran adalah Kalamullah bukan makhluk. Selama itu pula beliau diintimidasi, diancam, bahkan dipenjara akibat membela akidah yang benar.
Puncaknya, setelah gagal memaksa beliau untuk menganut doktrin sesat tersebut, dan berkali-kali mereka dipermalukan akibat kalah beradu argumentasi dengan beliau, akhirnya mereka menempuh jalan kekerasan fisik.
Imam Ahmad diseret ke bawah teriknya sinar matahari, lalu dihadirkan para algojo ahli cambuk. Tatkala penguasa melihat cambuk-cambuk yang akan digunakan sudah lama, diapun memerintahkan untuk didatangkan cambuk-cambuk yang masih baru.
Dimulailah deraan cambuk pertama, lisan Imam Ahmad menimpalinya dengan dzikrullah. Cambukan kedua, ketiga, keempat, tetap beliau balas dengan lantunan Asma’-asma’ Allah. Ketika sampai pada cambukan yang kesembilan belas, al-Mu’tashim bangkit dari tempat duduknya berjalan mendekati Imam Ahmad dan berkata, “Wahai Ahmad, apakah rasa sakit telah mematikan jwamu? Harus dengan apa kamu ingin mengakhiri hidupmu? Apakah engkau ingin mengalahkan mereka semua?”
Sementara suara ahlul bid’ah sahut-menyahut mengompori penguasa, “Wahai khalifah, bunuh saja dia, bunuh saja dia!”
Al-Mu’tashim melanjutkan, “Kasihanilah dirimu dan ikutlah denganku! Sesungguhnya manakala kau mengikutiku, gelar imam akan tetap kau sandang!?”
Imam Ahmad menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, berikanlah padaku dalil dari Alquran dan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang membenarkan ideologi yang paduka anut, saat itulah aku akan mengatakan apa yang paduka katakan!”
Al-Mu’tashim pun kembali lagi ke singgasananya dan memerintahkan untuk memperkeras cambukan, sementara darah turus mengucur deras dari tubuhnya, hingga akhirnya Imam Ahmad tidak sadarkan diri.

Di saat pingsan, badan Imam Ahmad dibaringkan di atas tikar milik seseorang. Tatkala sadar, disodorkan pada beliau bubur dan air minum. Namun beliau menolaknya dan berkata, “Tidak, aku sedang berpuasa dan aku tidak mau membatalkan puasaku!”. Lalu beliau menunaikan shalat Dhuhur berjamaah dengan muridnya.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار
Jamaah Jumat rahimakumullah
Itulah potret pengorbanan yang hakiki; pengorbanan untuk membela akidah Islam dan sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.
Jika di zaman ini, manakala akidah Islam dinodai dengan doktrin-doktrin kekufuran serta kesyirikan dan sunnah Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam dikotori dengan bid’ah juga khurafat, lalu masih banyak di antara kaum muslimin yang adem ayem saja tanpa merasa terusik sedikitpun, itu menunjukkan bahwa jiwa pengorbanan mereka perlu dipertanyakan dan ketajaman iman mereka masih perlu diasah.
Wajib hukumnya bagi kita semua untuk membela agama Allah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing dengan cara yang bijak, hikmah dan elegan, sesuai dengan norma-norma yang digariskan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam.
Semoga khutbah singkat ini bisa menginspirasi kita semua dan kaum muslimin untuk meluruskan pemahaman akan makna pengorbanan, serta membumikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin ya rabbal ‘alamin.
ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد
ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة
KhotbahJumat.com

Nahkoda yang Kehilangan Kapal


(NASIHAT BAGI PARA ORANG TUA)

KHUTBAH JUMAT PERTAMA

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ، وَخَلَقَ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا أَهْلاً وَأَصْحَابًا، وَجَعَلَ الْجَنَّةَ دَارَ أَوْلِيَائِهِ، وَالنَّارَ دَارَ أَعْدَائِهِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ، وَأَشْرَفِ خَلْقِهِ، الَّذِي جَاءَ إِلَى الْجَنَّةِ دَاعِيًا، وَفِي نَعِيْمِهَا مُرَغِّبًا، وَمِنَ النَّارِ وَعَذَابِهَا مُخَوِّفًا وَمُحَذِّرًا وَمُرَهِّبًا
وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى آلِ الرَّسُوْلِ وَصَحْبِهِ وَتاَبِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ، الَّذِيْنَ أَعَدُّوا لِلْأَمْرِ عِدَّتَهُ، وَأَخَذُوْا لَهُ أُهْبَتَهُ، فَأَسْهَرُوْا لَيْلَهُمْ يُصَلُّوْنَ، وَيَسْتَغْفِرُوْنَ، وَيُنَاجُوْنَ اللهَ، وَيُرَتِّلُوْنَ كِتَابَهُ، َوأَظْمَؤُوْا نَهَارَهُمْ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ بِالصِّيَامِ، لأَنَّهُمْ عَلِمُوْا أَنَّ الْأَمْرَ جَدٌّ، وَلاَ نَجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَلاَ فَوْزَ بِالْجَنَّةِ إِلاَّ بِِالتَّشْمِِيْرِ عَنْ سَاعِدِ الْجَدِّ، وَبَعْدُ
Ma’âsyaral Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Bagi seorang muslim, masuk surga merupakan cita-cita tertinggi dan mulia sepanjang hidupnya. Namun ironisnya, terkadang perbuatannya berbicara lain. Perbuatan yang dia lakukan justeru bisa menggiringnya ke neraka Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan menghalanginya dari surga. Oleh karena itu, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita perlu mempertajam perhatian kita dan meperdalam ilmu kita, agar kita bisa lebih waspada dan cermat dalam memilih perbuatan yang hendak kita lakukan. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

Tiga golongan manusia yang telah Allâh haramkan baginya surga (yaitu): pecandu khamer, orang yang durhaka kepada orang tuanya dan ad-dayyûts (yakni) kepala rumah tangga yang menyetujui keburukan dalam keluarganya. (HR. Ahmad, dishahihkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’, no. 3052)

Dalam hadits yang mulia ini, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan dengan tegas bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan surga atas tiga golongan manusia ini. Di antaranya adalah ad-dayûts (yakni) kepala rumah tangga yang menyetujui atau membiarkan keburukan dalam keluarganya, khususnya keburukan yang mengarah kepada perzinaan. Misal pergaulan bebas, mengumbar aurat, ikhtilâth (campur baur) laki-laki dan perempuan yang bukan mahram atau yang semisalnya. Inilah inti pembahasan kita pada kesempatan yang berbahagia ini.
Dalam hadits yang lain, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ وَالدَّيُّوثُ
Tiga golongan  manusia yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala (tidak berkenan) melihat mereka, (yaitu) orang yang durhaka kepada orang tuanya, wanita yang bergaya seperti lelaki dan menyerupainya, serta ad-daiyûts. (HR. Ahmad, an-Nasâ’i dan al-Hâkim, serta dishahihkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’, no. 3071).
Ma’âsyaral Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Dalam dua hadits yang mulia di atas, nampak jelas bahwa seorang kepala rumah tangga beresiko besar terhalang dari masuk surga-Nya bahkan disaat yang begitu mencekam, pada hari kiamat tidak dihiraukan Rabb-nya. Hal ini berakar pada prinsip yang disampaikan Rasulullah,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak itu, dilahirkan dalam keadaan fithrah, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. al-Bukhâri dan Muslim)
Begitulah kedua orang tua, terutama kepala rumah tangga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian anak, baik dalam hal aqidah, ibadah maupun akhlaq. Dengan demikian, adalah sebuah kesalahan besar jika seorang kepala rumah tangga membiarkan istri dan anak perempuannya mengumbar aurat di jalan-jalan, membiarkan mereka jilbab, atau berjilbab tapi busananya sempit dan ketat membentuk lekukan tubuh sehingga memancing keinginan buruk kaum lelaki yang berpenyakit hatinya. Padahal Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا ….. وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Dua golongan manusia penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, (di antaranya): , dan kaum wanita berbusana, akan tetapi telanjang, berjalan dengan berlenggak lenggok sambil memiringkan pundaknya serta menambahkan sesuatu pada kepala mereka agar menarik perhatian, (manusia jenis ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. (HR. Ahmad dan Muslim)
Sekiranya ada kepala rumah tangga yang dimasukkan ke surga, akankah dia rela melihat istri tercinta, anak-anak tersayang menjadi penghuni neraka, terpisah darinya, bahkan bau surga pun tidak bisa mereka cium??
Ma’âsyaral Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Bagaimanakah tanggung jawab orang tua? Akankah dia meraih keberuntungan ketika ia menyia-nyiakan ladang amal terdekatnya? jawabannya tentu tidak.
Kalau membiarkan kemungkaran saja di hukumi daiyûts, lalu bagaimana dengan kepala rumah tangga yang menganjurkan atau bahkan menyuruh keluarganya untuk berlaku maksiat. na’uudzubillah min dzalik.
Apakah mereka tidak pernah mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Barangsiapa yang mengajak orang untuk mengikuti petunjuk Allâh Subhanahu wa Ta’ala, maka ia mendapatkan  pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala orang-orang tersebut sedikitpun. Dan Barangsiapa yang mengajak orang lain untuk mengikuti kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. (HR. Muslim dan Ahmad, serta dishahihkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’, no. 6234)

Setiap kebaikan yang kita ajarkan kepada orang lain, termasuk kepada anak kita, maka pahalanya akan berlipatganda sebanding dengan jumlah orang yang mengikuti ajaran kebaikan tersebut. Begitu juga dengan keburukan, setiap keburukan yang diajarkan seseorang, maka dosanya akan dilipatgandakan sebanding dengan jumlah orang yang mengikuti keburukan tersebut.

Manakah yang akan kita pilih untuk diri kita? Bergegas mengajarkan kebaikan? Ataukah justeru tanpa sadar menyesatkan anak-anak kita yang merupakan aset tak ternilai harganya? Dengan membiarkan mereka tanpa arah atau menyediakan televisi sebagai guru mereka.

Ma’âsyaral Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Hendaklah kita selalu mengingat sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila seorang anak Adam telah wafat maka terputuslah semua amal perbuatannya kecuali dari tiga perkara (yaitu)  sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shaleh yang mendoakannya. (HR. Muslim dan Abu Daud)
Tanpa pembinaan yang baik, maka seorang anak tidak akan menjadi shaleh. Orang tuanyalah yang berperan dan mereka pulalah yang akan memetik hasilnya. Alangkah ruginya! Orang tua atau kepala rumah tangga yang menyia-nyiakan keturunannya tanpa arahan dan bimbingan. Sehingga mengakibatkan ia menyimpang jauh dari ajaran Islam, tidak mengenal cara berbakti kepada kedua orang tua. Kebiasaannya melakukan maksiat hanya akan menambah dosa, bahkan menjadi aib kedua orang tuanya, baik tatkala orang tua masih hidup maupun setelah meninggal dunia.
Semoga kita dijadikan orang tua yang gemar dan sabar membimbing anak-anak, terutama anak perempuan kita, sehingga kita bisa menikmati hasilnya di hari tua atau sepeninggal kita. Amin.
أقول قولي هذا، فأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنه سميع قريب مجيب الدعوات

KHUTBAH JUMAT KEDUA

الحمد لله حمدا كثيرا مباركا فيه، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء و رسله، وأقرب عباده، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:
Ma’âsyaral Muslimin, rahimanillâh wa iyyakum
Wahai para orang tua, terutama kepala rumah tangga! Di antara yang paling berpengaruh terhadap anak kita selain keluarganya adalah teman. Maka perhatikanlah anak-anak kita! Dengan siapakah anak-anak kita bergaul?
Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabda,
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Sungguh permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun (jika berteman dengan-pen) penjual minyak wangi, maka mungkin kamu diberi minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau (minimal-pen) kamu mencium bau wanginya.  Adapun (jika berteman dengan-pen.) tukang pandai besi, bisa jadi bajumu terbakar atau kamu mencium bau yang tidak sedap darinya. (HR. al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’, no. 2367)
Betapa banyak anak-anak yang terlahir di lingkungan keluarga baik-baik,  terbiasa dengan berbagai perangai yang baik, terdidik untuk taat terhadap agama Islam dan menjunjung nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya, akan tetapi berubah seratus delapan puluh derajat, setelah mengenal dunia luar dan salah memilih teman. Maka pembinaan anak dimulai dari lingkungan keluarga dan terus kita pantau perkembangannya di lingkungan luar, supaya benar-benar bisa kita memanen hasilnya di hari tua dan berlanjut sampai setelah kita dipanggil oleh-Nya.

Wahai segenap orang tua, terutama kepala rumah tangga! Janganlah pernah cuek dan diam terhadap kemungkaran dalam rumah kita. Jangan pernah berputus asa dalam memimpin anggota keluar, dan sekali lagi jangan lupa berdoa kebaikan untuk mereka, karena doa merupakan senjata ampuh seorang yang beriman.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَىمُحَمَّدٍ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا وَ آخِرُ دَعْوَانَا الْحَمْدُِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
KhotbahJumat.com